lanjalan

Batu Karas, Pangandaran.

Jadi sekitar dua minggu yang lalu, BEM Unpad mengadakan acara Travel and Write bareng Kompas. Iya, jalan-jalan sambal nulis dan gue memutuskan buat ikut kegiatan ini. Tujuan trip kali ini yaitu ke Batu Karas, Pangandaran.

Tanggal 21 November sekitar pukul 21.00, kita berangkat naik bis menuju Pangandaran. Gue belum makan apa-apa dari pagi (iya ini penting) akhirnya cuma beli roti dan susu. Ohiya! Kali ini bukan trip with strangers kaya ke Pulau Pari waktu itu haha, Ghea ikut loh.

Kalo ke Pulau Pari waktu itu tuh modal nekat, ya gimana ga nekat wong ikut trip sama orang yang ga dikenal dan sendirian HAHA that’s me anyway. Oke, lagi-lagi sepanjang perjalanan hal paling asik yang bisa dilakuin ya dengerin lagu pake headset.

Sekitar jam 4 pagi, akhirnya setelah hampir jatoh sana sini (iya gue emang ga pro kalo tidur di bis) kita sampai di wisma (yang gue lupa namanya dan ga berusaha buat inget juga bye) hampir semua peserta selepas turun dari bis dan ditunjukkin kamarnya yang mana, langsung pada tepar.

While me, (again) amazed by the stars. Bintangnya deket banget! Banyak dan entahlah rasanya pengen terbang saat itu juga, senyum-senyum sendiri liat langit. Beberapa panitia juga meregangkan otot sambil tiduran diatas tikar. Happiness is that simple. Pagi pun kembali menyapa, bintangnya ilang deh haha.

Tiap peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Gue dan Ghea ada di kelompok yang sama, lalu kita semua sarapan nasi+ayam goreng. (Oke gue jadi laper. Laper oy bukan baper.) Setelah sarapan, panitia ngasih kabar kalo kita ngga akan bisa body rafting karna debit airnya masih tinggi, sedih sih iya kan emang pengen banget body rafting malah ngga jadi.

Akhirnya kita menjalankan plan b (asik). Plan b nya itu jalan jalan di sepanjang pantai Pangandaran. Oke, lalu kita menuju pantai Pangandaran yang memakan waktu sekitar dua jam dari wisma yang gue lupa namanya tadi. Ketidakprofesionalan gue dalam hal tidur di bis bener-bener bikin gue kesel (iya ini penting), abisnya tuh tiap bisnya kena lubang atau apapun yang rusak gue pasti mau jatoh dari posisi tidur gue :” dan setelahnya gabisa tidur lagi. Sesampainya di pantai Pangandaran, peserta dan panitia langsung siap siap buat naik perahu menuju tempat wisata pantai nya.

I let my hand touch the water. The way it calms me down but scares me at the same time, the way it flows freely, wildly. I always want to live at peaceful time like this but life has its own wave. I need to be the strongest, or I will drown to the darkness if I can’t force myself to swim toward the surface.

Wisata sepanjang pantai dimulai dari mengunjungi goa-goa peninggalan sejarah yaitu goa belanda, jepang dan monyet-monyet lucu penghuni hutan.  Daaaaaaan gue kepleset haha emang licin sih dan berlumut jalannya.

pangandaran pangandaran

LUCU KAAAAAAAAAAAN!!! Mereka kayanya damai banget hidupnya gaada masalah ya hahahahaha. Nah yang paling seru di goa mak lampir nih, jadi ada beberapa batu yang bentuknya aneh aneh, kata guidenya ada yang berbentuk kelamin laki-laki dan perempuan yang menurut gue super absurd karna ga mirip sama sekali -_- gatau sih kalo yang laki-laki haha

20141122_115413[1]

Mitosnya kalo yang perempuan mau dapet jodoh dan memegang batu kelamin laki-laki maka setelahnya dia bakal dapet jodoh, sebaliknya kalo yang laki-laki mau dapet jodoh ya harus memegang batu kelamin perempuan. Kalo sudah punya pasangan, pegang dua-duanya nanti bakal langgeng hubungannya. Engga gue ga megang yaelah hahahahahaha. Gue lelah keliling pantai naik turun bukit, sampai akhirnya kegiatan terakhir yaitu snorkeling.

This is what I scared the most though I did it before but there is this three years old girl within me who almost died while swimming at the time and I can’t help but trembling every time my head recall the memory. Thank God I am that good at recalling things, I know I can’t swim for the rest of my life. 

Satu jam lebih gue ‘berenang’ dan tetep setakut itu buat ngelepasin tangan gue dari trainernya. I’d rather do muay thai the whole day than to swim unless it was a pool. Walaupun ya akhirnya gue ngelepasin tangannya juga, kita ngambang sekitar satu jam lebih. Iya ngambang kan pake pelampung haha. I still afraid tho. 

Setelah selesai, kami pun kembali ke pesisir pantai. Gue duduk di bagian sayap perahunya. Gue pegangan seerat yang gue bisa, karna pelampungnya udah dilepas, mati aja kalo jatoh men. Entah, saat itu kaya ngga ada apa-apa. Yang ada cuma kepuasan teriak-teriak selama perahunya melaju dengan kencangnya. Muka udah item, tangan udah belang, tapi tetep seneng! Liat ikan sama karang sama udang huehehehe. Semoga lain kali muncul keberanian buat berenang tanpa dipegangin :”

Setelah mandi dan beres-beres, kita makan siang sebelum akhirnya kembali lagi ke kenyataan HAHA.

Perjalanan pulang memakan waktu sekitar 6 jam, sesampainya di Jatinangor, bukan kasur yang gue sambut, melainkan dinginnya angin malam karna harus naik motor sama Ghea dan Abdil (iya bertiga) ke Bandung menjalankan kewajiban sebagai panitia Pesta Rakyat Unpad.

LIFE THO 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *