ngobrol

Kami menyebutnya perbincangan senja

What is done, done.’

Empat kata itu yang mengawali perbincangan panjang gue sama Ghea tadi. Bukan hal yang aneh kalo gue sama dia udah di kampus sampe malem, buat tukar pikiran. Kadang sampe nangis gajelas, nyanyi-nyanyi sampe diliatin orang hahaha. Dan gue bener-bener melupakan rasa sakit pada tubuh gue, padahal kemaren udah ga kuliah hahahaha. Dan entah kenapa juga gue mau ngepost tentang ini. Oke gue mau nulis beberapa pernyataan yang entah kenapa gue bisa mikir kaya gini.

1. Adil?

Dulu waktu gue kecil, gue diajarkan bahwa ‘Adil berarti sama rata’. Ketika gue punya kue 10 dan gue harus berbagi ke satu orang teman, jadi gue punya 5 kue, begitu pula temen gue. Lalu ketika gue mulai mengalami asam manisnya kehidupan (asik banget ga tuh?) engga. HAHAHAHA iya setelah gue mulai mengalami asam manisnya hidup yang kaya permen nano-nano itu, gue mulai paham kalo ‘Adil tidak sama dengan rata’. Adil itu ada baik dan jahat, kiri dan kanan, cantik dan jelek, surga dan neraka. Kenapa gue berpendapat kaya gitu? Karna gue sudah sangat muak banyak orang bilang, ‘kalo ada orang baik, pasti ada orang jahat, Fa.’ Kalo ‘Adil berarti sama rata’ kenapa harus ada dua sisi? Kenapa ga yaudah kalo ada orang baik, ya baik aja gausah ada yang jahat.

Here’s one case: ada orang yang gampaaaaaaaaaaaaaaaaaaannnnggg banget mendapatkan yang dia mau, while on the other hand ada orang yang harus jatuh bangun, muntah darah, jungkir balik dulu buat pada akhirnya mendapatkan yang mereka mau (oke itu lebay sih) ah biarin.

Kenapa kaya gitu? Kenapa harus ada yang tertawa diatas penderitaan orang lain? Is it fair? Ga heran banyak orang di dunia ini yang kerjaannya bales dendam karena mereka merasakan ketidakadilan dalam hidupnya, karena mereka merasa menderita sementara orang lain tertawa. Kalo ‘Adil berarti sama rata’ harusnya ideologi cuma ada satu yaitu: Komunis. Gaperlu ada kaya dan miskin, kalo miskin ya miskin aja semua, toh 5+5=10.

Image

2. Gimana bisa satu individu bisa tertawa bahagia dengan cara menyakiti individu lain?

Kalo kata Stacey Bendet, “Why be unkind when you can be kind? That’s like asking why wear a hat when you can wear a tiara.”

Sebenernya gue agak males ngejelasin yang ini, dan emang gamau ngejelasin juga. Katanya  bentar lagi kiamat, gatau kata siapa. Tapi rasa heran gue masih lebih besar daripada rasa muak ketika melihat satu individu lebih seneng nyakitin individu lain daripada membuatnya merasa senang. KOK BISA YA?

3. Kami lelah hahahahahaha. Akhirnya kita duduk-duduk cantik di kursi gerlam, sambil liat orang lalu lalang, liat ‘kehidupan’…

I guess sometimes we just need to ‘stop’ doing anything.

Jadi ceritanya gue sudah mencuci otak Ghea tadi hahaha ampun Gheeeee.

Well, sometimes I don’t even understand myself, why I am the way I am. Gue sering bertanya-tanya, kenapa gue hidup di dunia yang seperti ini, kenapa gue sulit mendapatkan yang gue mau, kenapa gue sering ngerasa dipaksa untuk bersyukur (sama keadaan), kenapa ‘orang-orang itu’ membuat gue jadi menyalahkan keadaan, kenapa gue benci sama kebetulan. Karena menurut gue ‘kebetulan’ adalah pemicu tumbuhnya harapan, dan harapan hanya berfungsi untuk mengaburkan pahitnya kenyataan *tak tak des* (kalo manis namanya gula, Fa bukan kenyataan) bodo amat. I do monologue, sorry :3

Baiklaaahhhh, terima kasih kepada siapapun yang telah mengizinkan gue bertemu sama Ghea.

And we call it, ‘perbincangan senja.’

Oh iyaaaaaaaaaaaaa gue disapa sama mas nya Ghea aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa HAHAHAHAHAHAHAHAHA KALO INI MAH CUMA GHEA YANG NGERTI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *