ngobrol

Oh how beautiful this life is, and you know I lied

Gue masih bingung sebenernya ini layak buat diceritain apa engga karena waktu itu gue berniat untuk menyimpan rapat-rapat kejadian demi kejadian pahit yang menimpa gue di tahun kemarin. Dan memang kenyataannya gue sangat pintar menyimpan itu semua. HA HA HA. Tapi seperti rencana gue di tulisan pertama tahun 2017, gue akan menulis lebih banyak supaya gak gampang ngeluh lagi. Ya salah satu yang bikin gue ngeluh terus adalah hal yang bakal gue ceritain ini. Sebenernya ini kelanjutan cerita dari penolakan jilid satu di post sebelumnya, so, here we go.

Setelah penolakan judul skripsi yang berujung pada nyaris mati nya gue, gue pun kehilangan motivasi buat ngelanjutin semuanya. Gue mulai males ngeliat orang, balik ke Jatinangor pun gue sangat sangat gak mau. Gue takut, setakut itu. Gue gak mau ngeliat muka dosen-dosen penguji Seminar Usulan Judul Skripsi serta orang-orang yang hadir menonton waktu itu.

Satu hal yang masih bikin gue pengen balik adalah karena pengen ketemu sama doi. Dan itupun masih ngerasa males karena di tanggal 14 Mei 2016 gue harus check up lagi. Jadi intinya gue harus bolak-balik. Waktu itu masih ada dua mata kuliah yang gue ambil, ngulang sih sebenernya dan ya akhirnya gue terpaksa balik soalnya harus UTS susulan. Sekitar seminggu gue ada disana, trying to regain my consciousness and alienating myself lalu grup chat kelas mulai rame karena mau ngadain nginep bareng di Lembang.

Jelaslah gue males ikut HAHA semua orang udah punya dosen pembimbing sementara gue boro-boro, buat mencerna nasi dengan baik aja susah apalagi mikir buat ngebenerin materi yang ditolak waktu itu. Muntah kertas kayaknya (?) Yes, Fadil if you’re reading this, sorry not sorry, I lied. That was the first reason I don’t wanna go. I was full of pain, mentally and physically. Please tell me, what kind of mask should I wear at the time? 

Alasan yang kedua adalah nyokap gue sakit. Gue lupa persisnya tanggal berapa, pertengahan bulan Mei mama ngeluh sakit perut dan keluar menstruasi lagi padahal setahun sebelumnya dia udah melakukan kuretase yang berarti harusnya gak mens lagi. Beberapa hari setelah mengeluhkan hal tersebut dia memutuskan buat ke rumah sakit, saat itu gue yang masih dalam perjalanan pulang menuju Jakarta memutuskan buat nyusulin ke rumah sakit. Gue gak tau harus mendefinisikan hari itu seperti apa, dan gak tau harus berekspresi seperti apa saat setelah periksa, mama menghampiri gue dan bilang bahwa dokter memvonis dirinya terkena penyakit kanker endometriumNO! There was no such thing as zoom in-zoom out camera. 

Gue memang sebelumnya sempat bertanya ke mama apa boleh ikut liburan dengan anak-anak kelas dan beliau mengizinkan tetapi saat tau bahwa penyakit yang ia derita segitu bikin merindingnya, gue benar-benar makin yakin untuk mengurungkan diri ikut liburan.

Tiga dokter disambangi oleh mama buat mencari kepastian apa benar hasil kuretase yang baru ia ambil di rumah sakit di daerah Jagakarsa setelah setahun lamanya itu (karena merasa udah baik-baik aja) menyatakan kalo dirinya terkena kanker. Salah satu dokter di rumah sakit di daerah Jakarta Pusat menyarankan kalo rahim, sel telur, dan jaringan di dalam tubuh mama harus diangkat. Terus emak gue isinya apa dong badannya kalo semua diangkat???!!! Ya kira-kira begitulah kalimat yang ingin gue utarakan kepada sang dokter yang sangat gak ramah tersebut. Sampai akhirnya berjodohlah mama dengan dokter di daerah Ampera, Jakarta Selatan. Berjodoh karena penjelasan yang keluar darinya sangat menenangkan hati, kata-katanya mudah dimengerti dan tentunya diberikan beberapa saran serta contoh kasus yang pernah dokter tersebut hadapi.

Setelah pertimbangan demi pertimbangan yang dipikirkan, termasuk gimana respon bokap karena ya you know lah beliau salah satu orang yang sangat sulit untuk diajak ngobrol kayak gini nih. Gue gangerti deh, di otaknya bawaannya serius mulu tapi dia justru dengan mudahnya membuat lelucon terhadap hal-hal yang harusnya dianggap serius. See how difficult it is? Belum lagi ditambah dengan sikapnya yang suka tiba-tiba ngediemin seluruh orang di rumah tanpa sebab yang jelas. Kami yang didiemin pun sudah pasti enggan buat bertanya, buat apa? Diam pun salah apalagi memberikan pertanyaan. Jadilah terlalu sering rumah kami seperti penampungan mayat. Cuma bedanya kalo penampungan mayat bau busuk, kalo ini masih wangi lah ya.

Tanggal 10 Juni 2016 mama dijadwalkan untuk operasi pengangkatan rahim di Kemang Medical Care yang dokternya ramah tadi. Oh, tentunya hidup ngajak becanda sehari sebelumnya. Waktu itu sekitar jam 5 subuh setelah kami semua selesai sahur dan sholat subuh lalu akan menunaikan ibadah tidur, mama yang sudah berniat untuk ngaji tiba-tiba nyamperin gue ke kamar mengeluh detak jantungnya yang berdetak terlalu cepat and of course it made her feel beyond weirdIt doesn’t supposed to beat that fast but it didAwalnya mama masih bisa gue tenangin buat mengatur nafasnya, tapi sampe jam menunjukkan pukul 6.30 pagi pun detak jantungya masih gak beraturan. Akhirnya gue minta mama buat membatalkan puasa dan minum air hangat aja, mulai dari air biasa sampe teh manis gue kasih dan dia malah makin gusar.

Kaki mama mulai dingin, posisi apapun gak bisa mengubah detak yang bener-bener cepat itu. Gue udah melakukan yang diperintahkan Google buat mengatasi panic attack pun gak mempan. Tangan mama makin dingin, dari minyak kayu putih sampe balsem udah gue balurkan ke tubuhnya dan gak ngaruh. Adek gue mulai menangis, bokap gue yang tadinya diem gak beranjak di kamar seperti gak terjadi apa-apa lalu menghampiri kami yang udah kehabisan akal. Ia memeluk mama dan mengajak mama buat istighfar. Momen paling menyebalkan pun tiba yaitu mama meminta maaf dengan tangisan yang menjadi-jadi.

Sesak rasanya mengingat lagi pagi yang muram itu. Sesak karena pagi itu sedikitpun gue gak bisa nangis. Gue tahan sejadi-jadinya sampe akhirnya pukul 7 gue memaksa papa biar kita berangkat aja ke rumah sakit, sesampainya di UGD mama meminta agar gak dibaringkan tapi di posisikan duduk bersandar aja. Mulai dari bagian dada hingga mata kakinya dipasangkan selang yang menyambung pada kotak hitam yang menunjukkan rekam detak jantung. Gue melihat angka 182, 176, 172 hanya itu aja. Saat itulah tangis gue gak tertahankan lagi dan gue keluar ruang UGD. Enggak, gue gak nangis teriak-teriak. Cuma setiap nafas yang gue hembuskan di ruang tunggu berbuah tangisan. Have you ever experienced that things happened too fast all you can do is just breathing and sobbing at the same time? Of course, not. You only think about yourself.

You know what was on my mind back then? Death. That was all.

Sebelumnya gue sudah melihat mama dirawat, operasi, tapi gak semenakutkan ini. Though deep down in my head healthy voices keep saying that this too shall pass. Operasi yang dijadwalkan pada Jumat pagi tetap dijalankan, Kamis malamnya gue sempat memberikan mama brainwave music biar rileks. Psst…Thank you, Fakhri. That peaceful music works.

Lima hari kemudian, gue mendapat message Facebook yang isinya berupa pengumuman diadakannya Seminar Usulan Judul Skripsi susulan buat yang judulnya udah ditolak waktu bulan April. Indahnya hidup ini karena pengumuman dan hari H pelaksanaan Seminar hanya berjarak kurang dari 24 jam. THAT IS HOW LIFE WORKS YOU KNOW.

Dengan berat hati gue pun pergi ke tempat mengerikan itu, berharap akan mendapat keajaiban tapi ternyata Tuhan masih belum mengizinkan gue buat bersenang hati. Tepat pukul 11 siang saat gue presentasi, gue di damprat abis-abisan lagi. Materi tugas akhir gue dianggap lebih cocok buat jenjang studi Master bukan Sarjana. Yep you guessed it right, judul gue ditolak. Lagi.

Udah ah gue capek, nanti lagi ya. Bay~

he said that I’m laughing like nothing is wrong, like I got no sin. 

“Emangnya kamu pikir kamu doang yang sakit? Tuh tanya sama yang di belakang kemarin pas mau seminar juga semuanya sakit.”

But no one’s being hospitalized except me, Sir. I wish I could said that to you. 

What? Who? The lecturer of course.

And the time when HE made fun of me in front of everyone, the one that I thought won’t laugh then laughed, happily

God, my friend laughed at me. Should I call him ‘friend’ again after that? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *