ngobrol

Self-worth

I was born with a curly hair. Its really curly to the point where only my mom who can comb my hair. She used to style it every day, never forget to put minyak kemiri ‘til it becomes very black and thick. It was fine, but then high school puts me in the worst condition. I was bullied, at supposedly the best place throughout life (thats what people said).

Masa SMA itu masa-masa yang paling indah. PRET.

Gue masih ingat hari pertama memasuki gerbang sekolah yang katanya favorit, sekolah yang didamba-dambakan oleh bokap gue agar anaknya diterima di sana. Gue masih ingat hari pertama sekolah gue dateng pukul 06.15, terlalu pagi memang. Yah namanya juga semangat, eh ralat, bokap gue yang terlalu semangat. Gue sih setakut itu, awalnya karena memang tingkat ketidakpercayaan diri gue sangat tinggi ditambah kok yang gue liat sedari gue menginjakkan kaki gue di lobby sekolah itu ya anak-anak yang berpotensi untuk meremehkan anak-anak lain. I guessed it right, gue gak se-emo itu HAHA. Hari pertama gue duduk sama cewek berponi yang nutupin mata, putih, tinggi, gue lupa namanya siapa. Yang jelas gue gak suka sama aroma parfumnya. Dan gak sampe seminggu kita duduk bareng. Semuanya baik-baik aja dan datar-datar aja tentunya, karena gue sebegitu buruknya dalam berkenalan sama orang baru. Serius. Separah itu. It exhausts me to make friends. Makanya sekalinya punya ya itu-itu aja orangnya. Semester satu berjalan biasa aja, temen gue cuma dua. Lalu datanglah satu anak pindahan yang kayaknya dari neraka, lupa juga neraka yang mana. Kita gapernah bener-bener ngobrol, kenalan juga enggak kayaknya. Tapi gue gak ngerti kenapa dia mulai ngomongin gue. Penampilan fisik gue.

Dengan mudahnya dia ngomong kalo gue mirip Didier Drogba, lalu Ronaldinho karena menurut dia rambut gue gimbal, kulit gue kusam dan rambut gue selalu dikuncir satu. Ya saking gue udah malesnya ngatur rambut, jadi yaudah seadanya aja. Awalnya gue gak masalah dikatain mirip ini dan itu. Tapi dia mulai gangguin gue, selalu ngeledek tiap ketemu di koridor sekolah, kantin dan sampai saat gue ngomong di depan kelas. Dia mulai lemparin kertas, sampah penghapus ke rambut gue. Hell! He even puts garbage in my bag. It was childish to the point it disgusts me. Gak cuma itu, dia pun menghasut anak-anak lain khususnya laki-laki buat ikutan ngatain gue juga. Walaupun yang berhasil dihasut cuma satu orang. Sampai akhirnya suatu hari gue marah, terus nangis. What else can I do though? Tapi apa respon dia? Ketawa. Dia terus ngecap gue dengan panggilan “Ronaldinho” bahkan pas gue terlambat masuk kelas. God its painful writing this.

Kejadian ini berlangsung cukup lama. Satu semester. Pernah suatu hari gue mencoba untuk marah sama orang tersebut, tapi respon dia hanya tertawa dan semakin meremehkan gue. Hari-hari di sekolah favorit tersebut gue jalani dengan berat, mau tidak mau gue tetep harus bertahan. Saat itu gue mikir, kalopun gue bilang ke bokap ya belum tentu juga dia mau pindahin gue sekolah. Gak mau kejadian waktu SD terulang lagi, bokap gue dateng ke sekolah karena ada tiga orang anak yang ganggu gue. Persis cara gangguinnya kayak di SMA ini. But then again Im a grown up girl I thought, at the time. Gue merasa harus bisa mengatasi semuanya sendiri. Gue pun memutuskan untuk ikut ekskul paskibra. Bahagianya gue saat itu karena menemukan suasana baru, selain belajar di kelas terus abis itu pulang ke rumah.

Ketika itu gue beruntungnya diikutsertakan dalam lomba, setelah latihan yang sangat melelahkan selama kurang lebih satu bulan. Satu hari sebelum lomba, senior yang memang melatih gue dan temen-temen gue bilang bahwa dia gak mau tau ketika hari H lomba dia mau rambut gue lurus. He bluntly said that my hair was the worst. Gue pulang ke rumah, nangis. Nyokap gue bingung sampai akhirnya gue ceritain semuanya. Jam 8 malem, nyokap nganter gue ke salon untuk lurusin rambut. Ma, kalo mama baca ini maaf ya ma. Keesokan harinya dengan wajah yang sumringah senior gue bilang, “nah gini kan rapi rambutnya.”

Sejak hari itu, gue mulai mengenal catokan. Gue coba rebonding, smoothing dan teknik-teknik meluruskan rambut yang ada di salon. Selama kurang lebih 9 tahun, gue takut memperlihatkan rambut asli gue. Setiap hari gue harus catokan, titik. Gue akan sangat merasa ketakutan ketika keluar rumah tanpa mencatok rambut terlebih dulu. Ketakutan yang gue rasakan sampai di titik di mana gue nangis setiap lihat pantulan diri gue sendiri di cermin. Gue gapernah merasa baik, gue sangat buruk dan atribut yang gue miliki pada tubuh gue sendiri gaakan pernah cukup membuat gue merasa lebih baik. Sampai masuk kuliah pun, dan selama kuliah gue rela bangun lebih pagi sebelum kelas mulai hanya untuk catokan. Tanpa gue sadari, gue bener-bener merusak rambut gue sendiri. Gue merusak apa yang udah diciptakan untuk gue. Bahkan beberapa kali pernah gue memutuskan untuk gak masuk kuliah, karena listrik kosan mati dan gue gak bisa catokan. Can you see how awful that was?

Gak jarang juga tangan gue luka karena kena catokan, sampai gue pun menertawakan diri sendiri dan mikir kenapa gue masokis amat jadi orang? Tapi tetep gue lakukan lagi setiap hari.

Gue akan sangat kesel kalo tiba-tiba hujan. Karena kalo kena air, ya rambutnya balik keriting lagi! Gue bahkan beberapa kali bohong sama temen-temen dan mantan pacar gue ketika harus ketemu mereka tapi tangan gue lagi pegel untuk nyatok, jadinya gue harus ke salon lalu dateng ketemuan terlambat dan berbohong kalo gue udah di jalan dengan alasan macet dan lain sebagainya. Kalo bikin perbandingan, sepuluh kali gue mau melawan perasaan takut dan gak percaya diri itu, tapi seratus kali perasaan tersebut justru makin menghantui gue.

Sampai akhirnya bulan Februari 2018, ketika itu gue udah kerja tapi suatu pagi catokan gue menunjukkan tanda-tanda kematian. Gue nangis sejadi-jadinya. Gue pun minjem catokan adek gue yang sialnya bentuknya lebih kecil dibanding punya gue, sehingga gue harus menghabiskan waktu untuk mencatok lebih dari satu jam. Yaiyalah! Rambut gue banyak.

I keep asking why is it so hard to value myself? Why is it so hard to accept what God has given to me? Why? Why is it so hard to be beautiful?

Di minggu yang sama, gue udah niat mau beli catokan baru. Tapi ternyata harga catokan yang memang berkualitas ya jutaan. Sampai gue akhirnya mikir, masa iya gue harus menghabiskan uang sebanyak itu untuk sesuatu yang merusak diri gue sendiri? Sekuat tenaga gue lawan rasa khawatir dan takut gue untuk tidak mencatok, dan cuek aja dateng ke kantor. Gue bersyukur, respon temen-temen gue sangat baik. Di hari itu di mana akhirnya gue maksa diri gue buat yakin sama penampilan gue sendiri, untuk pertama kalinya setelah kurang lebih 9 tahun, gue merasa dihargai. Sesimpel perkataan, “Fa, jangan dicatok lagi ya. Lebih bagus keriting.”, “Rambut keriting lucu tau, Fa.”

Gak terasa, udah setahun gue gak catok rambut. Yeay! Gue kumpulkan rasa capek gue nyatok rambut, dan betapa perihnya kalo catokannya kena kulit kepala juga jari-jari tangan gue. Gue meyakinkan diri gue untuk mensyukuri apa yang udah diciptakan buat gue. Bukan berarti mudah, sampai saat ini pun gue masih punya perasaan takut tersebut kalo gue liat foto-foto gue dengan rambut lurus. But, I have made peace with myself. I realized that what I have done was toxic and painful. I dont really want to feel pain anymore, therefore I’m valuing myself. And no one has the right to tell me not to.

To those people who told me Im not good enough, thank you.

Yes, I love my big beautiful hair, too

worth every love from myself

1 thought on “Self-worth”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *